alhamdulillah saya dpt nasihat yang bagus dari daqu school....ternyata apa yang sy lakukan memang tidak salah....insya allah...berikut inilah nasihatnya....
Nasihat berikut ini buat saya dan buat semua yang mau anaknya selamat lahir batin dunia akhirat. Jangan diterjun bebaskan anak-anak kita ke sekolah-sekolah yang belasan tahun tidak ada sholat dhuhanya, dan tidak memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk shalat dhuha! Hingga kemudian ia akan tumbuh menjadi anak-anak yang tidak cinta kepada Rasul-Nya.
Jangan diterjunbebaskan anak-anak kita ke sekolah-sekolah yang belasan tahun tidak ada sholat berjamaahnya ketiak zuhur. Kelak kita akan mendapati susah sekali anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang bisa shalat berjamaah, di awal waktu dan di masjid.
Jangan diterjunbebaskan anak laki-laki kita ke sekolah yang aurat wanitanya begitu terbuka, sedang anak-anak kita belumlah lagi diberi pengetahuan bahwa dia harus menjaga pandangannya, harus menahan nafsunya. Jangan diterjun bebaskan anak-anak perempuan kita, ke sekolah-sekolah yang pergaulan beda jenisnya bebas. Anak-anak kit gas siap, atau kitalah yang menyiapkannya dulu hingga mereka siap.
Dan begitu saja mudah memberikan sepertiga, setengah, atau bahkan dua pertiga hidup anak kita, ke sekolah-sekolah yang porsi buat Al-Qur’an, porsi buat Allah, sedikit sekali.
Kenalkan dulu anak kita, kepada pegangan hidupnya. Al-Qur’an dan as-Sunnah. Supaya pentingin Al-Qur’an dan as-Sunnah bagi kehidupannya. Supaya Al-Qur’an dan as-Sunnah menjadi bahagian dari kehidupannya kelak.
Kita benerin bacaan Qur’annya anak kita dulu. Kita bikin dia hafal Qur’an dulu. Kita buat dia asyik dulu mempelajari Al-Qur’an. Tanpa sadar terbangun karakter Al-Qur’an dalam dirinya. Akhlaknya, Al-Qur’an. Seperti Rasulullah yang akhlaknya adalah Al-Qur’an; Kaana khuluquhul qur’an.
Sejarah membuktikan, para cendikiawan muslim dunia adalah penghafal Al-Qur’an. Hidupnya tidak lepas dari Al-Qur’an. Pakaiannya adalah as-Sunnah. Apalagi Rasul mewariskan dua hal bagi hidup anak-anak kita, dan kita; yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah. In tamassaktum bihima lan tadhillu abadan, kalau kita memegang keduanya, tidak akan sesat selama-lamanya.
Dan wajah seperti apa anak yang kita idamkan? Wajah anak-anak yang mengejar impiannya? Mengejar cita-citanya? Atau wajah anak-anak yang melupakan Allah? Asyik belajar tapi sholat telat, sholat lupa, sholat sunnah berat dan susah? Hampir-hampir seperti kita yang jauh dari masjid? Jauh dari sholat tepat waktu? Jauh dari berjamaah? Sepi dari sholat-sholat sunnah?
Wajah anak-anak yang bagaimana yang mau kita lihat? Wajah anak-anak yang lebih penting ujian nasional ketimbang ujian hidup? Wajah anak-anak yang hanya memikirkan nilai berupa angka? Tapi melupakan nilai-nilai kehidupan? Utamanya nilai-nilai yang ada di Al-Qur’an dan as-Sunnah? Hidupnya kering dari budi, dari rasa, dari kasih sayang. Tujuan hidupnya kecil, hanya masuk sekolah favorit? Hanya masuk perguruan tinggi negeri? Setelah lulus, mikirin hanya nyari kerja, nyari gajian? Tidak mencari Allah, yang Maha Memiliki Pekerjaan, Maha Memiliki Rizki?
Pernahkah berpikir, siapa yang akan menguburkan Anda? Anak Anda? Ataukah ia hanya melihat dari tepian kuburan, dimana tukang penggali kuburlah yang menanam jasad kita. Bukan anak kita? Ketika penggali kubur bertanya, siapa nih yang mau ngazanin ni mayit? Sebelumnya kita kemudian timbun dengan tanah dan meninggalkannya? Lalu tidak ada satupun anak kita yang menjawabnya dengan turun ke bawah kuburan, lalu mengazankannya. Kecuali malahan ia mempersilahkan penggali kubur saja yang sekalian almarhum kita ayah dan ibunya.
Pernahkah berpikir, siapa yang akan mendoakan kita dan mengalirkan kita kebaikan demi kebaikan. Setelah wafatnya kita? Jangan-jangan kita dipusingkan sejak anak kita hidup dan sejak kita hidup. Pusing dengan segala kelakuannya, yang semuanya sebenarnya adalah kesalahan kita. Anak ibarat gelas. Sayang, ia diisi dengan air yang bukan Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Tidakkah terbayangkan bahwa doanya anak kita adalah obat kuat bagi kita? Perhatiannya adalah kebahagiaan buat kita? Tatkala kita sakit, ia masuk bertanya dengan halusnya, sambil menggemgam tangan kita penuh kasih sayang, kemudian ia mengambil wudhu, dan shalat sunnah untuk kesembuhan kita. Dan setelah sholat, ia membacakan Al-Qur’an untuk kita. Belum wafatnya kita aja begini, insya Allah setelah wafatnya, maka ia akan sering mengingat dan mendoakan kita.
Dan sudahkah kita juga memberi bekal doa buat anak kita, bukan sekedar bekal uang? Apa yang kita tinggali untuk anak kita? Rumah dan harta yang justru mereka mungkin akan berpeluang jauh dari Allah? Atau seperti Rasul, kita tinggalkan Al-Qur’an dan as-Sunnah? Atau seperti Abu Bakar, yang meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk anak dan keluarganya?
Kondisi sempurna, tidak akan ada yang bisa, kecuali Allah yang kemudian memudahkan dan membuat kita bisa mendekati kondisi ideal untuk anak kita dan kita. Bahagia di dunia, bahagia di akhirat. Sukses di dunia, selamat di akhirat.
I’daadkan dulu putera puteri Anda, baru hantar kepada impian dan cita-citanya
Sisihkan waktu 1 tahun dari anak Anda. Kami didik anak Anda wahai para Ayah, wahai para Ibu. Untuk meraih kemuliaan para penghafal Al-Qur’an. Hal ihwal tentang program I’daad saya lampirkan sebagai lampiran surat terbuka ini. Setelah program I’daad ditempuh, silahkan kemudian melanjutkan pendidikan formalnya.
Jangan diterjunbebaskan anak-anak kita ke sekolah-sekolah yang belasan tahun tidak ada sholat berjamaahnya ketiak zuhur. Kelak kita akan mendapati susah sekali anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang bisa shalat berjamaah, di awal waktu dan di masjid.
Jangan diterjunbebaskan anak laki-laki kita ke sekolah yang aurat wanitanya begitu terbuka, sedang anak-anak kita belumlah lagi diberi pengetahuan bahwa dia harus menjaga pandangannya, harus menahan nafsunya. Jangan diterjun bebaskan anak-anak perempuan kita, ke sekolah-sekolah yang pergaulan beda jenisnya bebas. Anak-anak kit gas siap, atau kitalah yang menyiapkannya dulu hingga mereka siap.
Dan begitu saja mudah memberikan sepertiga, setengah, atau bahkan dua pertiga hidup anak kita, ke sekolah-sekolah yang porsi buat Al-Qur’an, porsi buat Allah, sedikit sekali.
Kenalkan dulu anak kita, kepada pegangan hidupnya. Al-Qur’an dan as-Sunnah. Supaya pentingin Al-Qur’an dan as-Sunnah bagi kehidupannya. Supaya Al-Qur’an dan as-Sunnah menjadi bahagian dari kehidupannya kelak.
Kita benerin bacaan Qur’annya anak kita dulu. Kita bikin dia hafal Qur’an dulu. Kita buat dia asyik dulu mempelajari Al-Qur’an. Tanpa sadar terbangun karakter Al-Qur’an dalam dirinya. Akhlaknya, Al-Qur’an. Seperti Rasulullah yang akhlaknya adalah Al-Qur’an; Kaana khuluquhul qur’an.
Sejarah membuktikan, para cendikiawan muslim dunia adalah penghafal Al-Qur’an. Hidupnya tidak lepas dari Al-Qur’an. Pakaiannya adalah as-Sunnah. Apalagi Rasul mewariskan dua hal bagi hidup anak-anak kita, dan kita; yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah. In tamassaktum bihima lan tadhillu abadan, kalau kita memegang keduanya, tidak akan sesat selama-lamanya.
Dan wajah seperti apa anak yang kita idamkan? Wajah anak-anak yang mengejar impiannya? Mengejar cita-citanya? Atau wajah anak-anak yang melupakan Allah? Asyik belajar tapi sholat telat, sholat lupa, sholat sunnah berat dan susah? Hampir-hampir seperti kita yang jauh dari masjid? Jauh dari sholat tepat waktu? Jauh dari berjamaah? Sepi dari sholat-sholat sunnah?
Wajah anak-anak yang bagaimana yang mau kita lihat? Wajah anak-anak yang lebih penting ujian nasional ketimbang ujian hidup? Wajah anak-anak yang hanya memikirkan nilai berupa angka? Tapi melupakan nilai-nilai kehidupan? Utamanya nilai-nilai yang ada di Al-Qur’an dan as-Sunnah? Hidupnya kering dari budi, dari rasa, dari kasih sayang. Tujuan hidupnya kecil, hanya masuk sekolah favorit? Hanya masuk perguruan tinggi negeri? Setelah lulus, mikirin hanya nyari kerja, nyari gajian? Tidak mencari Allah, yang Maha Memiliki Pekerjaan, Maha Memiliki Rizki?
Pernahkah berpikir, siapa yang akan menguburkan Anda? Anak Anda? Ataukah ia hanya melihat dari tepian kuburan, dimana tukang penggali kuburlah yang menanam jasad kita. Bukan anak kita? Ketika penggali kubur bertanya, siapa nih yang mau ngazanin ni mayit? Sebelumnya kita kemudian timbun dengan tanah dan meninggalkannya? Lalu tidak ada satupun anak kita yang menjawabnya dengan turun ke bawah kuburan, lalu mengazankannya. Kecuali malahan ia mempersilahkan penggali kubur saja yang sekalian almarhum kita ayah dan ibunya.
Pernahkah berpikir, siapa yang akan mendoakan kita dan mengalirkan kita kebaikan demi kebaikan. Setelah wafatnya kita? Jangan-jangan kita dipusingkan sejak anak kita hidup dan sejak kita hidup. Pusing dengan segala kelakuannya, yang semuanya sebenarnya adalah kesalahan kita. Anak ibarat gelas. Sayang, ia diisi dengan air yang bukan Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Tidakkah terbayangkan bahwa doanya anak kita adalah obat kuat bagi kita? Perhatiannya adalah kebahagiaan buat kita? Tatkala kita sakit, ia masuk bertanya dengan halusnya, sambil menggemgam tangan kita penuh kasih sayang, kemudian ia mengambil wudhu, dan shalat sunnah untuk kesembuhan kita. Dan setelah sholat, ia membacakan Al-Qur’an untuk kita. Belum wafatnya kita aja begini, insya Allah setelah wafatnya, maka ia akan sering mengingat dan mendoakan kita.
Dan sudahkah kita juga memberi bekal doa buat anak kita, bukan sekedar bekal uang? Apa yang kita tinggali untuk anak kita? Rumah dan harta yang justru mereka mungkin akan berpeluang jauh dari Allah? Atau seperti Rasul, kita tinggalkan Al-Qur’an dan as-Sunnah? Atau seperti Abu Bakar, yang meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk anak dan keluarganya?
Kondisi sempurna, tidak akan ada yang bisa, kecuali Allah yang kemudian memudahkan dan membuat kita bisa mendekati kondisi ideal untuk anak kita dan kita. Bahagia di dunia, bahagia di akhirat. Sukses di dunia, selamat di akhirat.
I’daadkan dulu putera puteri Anda, baru hantar kepada impian dan cita-citanya
Sisihkan waktu 1 tahun dari anak Anda. Kami didik anak Anda wahai para Ayah, wahai para Ibu. Untuk meraih kemuliaan para penghafal Al-Qur’an. Hal ihwal tentang program I’daad saya lampirkan sebagai lampiran surat terbuka ini. Setelah program I’daad ditempuh, silahkan kemudian melanjutkan pendidikan formalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar